Wuih Ngeri Po’…Kasus DBD di Balikpapan Tertinggi Kedua di Kaltim

Untuk mencegah penyebaran DBD, dilakukan dengan cara 3M plus yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air, serta menghindari gigitan nyamuk. Jaya menambahkan bahwa tantangan dan hambatan dalam pencegahan DBD adalah keterlambatan pasien datang ke fasilitas kesehatan.

Wuih Ngeri Po’…Kasus DBD di Balikpapan Tertinggi Kedua di Kaltim
UPAYA: Menurunkan kasus DBD di Balikpapan dengan melakukan vaksinasi DBD kepada murid sekolah. ((Prokal)

balikpapantv.co.id- Data dari Dinas Kesehatan Kalimantan Timur menunjukkan bahwa Kota Balikpapan memiliki jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tertinggi kedua selama tahun 2023, setelah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Ada total 5.616 kasus DBD di seluruh Kaltim pada tahun tersebut. Kepala Dinkes Kaltim, dr Jaya Mualimin, menyebutkan bahwa Kutai Kartanegara memiliki jumlah kasus tertinggi sebanyak 1.118 kasus, sementara Balikpapan memiliki 1.019 kasus dan Samarinda 868 kasus. Dr Jaya mengatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan DBD. Dr Jaya juga menyatakan bahwa ia siap menjadikan Kaltim sebagai provinsi percontohan dalam pencegahan DBD mengingat jumlah kasus yang ada.

 "Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD, salah satunya melakukan pilot program teknologi nyamuk ber-Wolbachia di Kota Bontang," ujar Jaya Mualimin di Samarinda, Jumat.

Ia berpendapat bahwa inovasi teknologi nyamuk ber-Wolbachia dipercaya dapat mengurangi penularan DBD. Nyamuk ber-Wolbachia adalah nyamuk jenis Aedes aegypti yang telah diinfeksi dengan bakteri Wolbachia, hal ini mampu mencegah perkembangbiakan virus dengue dalam tubuh nyamuk.

"Proses nyamuk ber-Wolbachia yang didatangkan dari Yogyakarta dikawinkan dengan nyamuk liar di Bontang. Hasil perkawinannya akan menghasilkan nyamuk ber-Wolbachia juga. Dengan demikian, nyamuk liar yang menjadi perantara DBD akan berkurang secara bertahap," ujarnya.

Menurut Jaya, program teknologi nyamuk ber-Wolbachia akan berjalan dalam jangka panjang dan masih dalam tahap uji coba. Meskipun masih ada kasus DBD di Bontang, ia mempunyai harapan bahwa program tersebut akan berdampak positif di masa depan.

Selain itu, Dinkes Kaltim menjalankan program pilot vaksinasi dengue untuk anak-anak berusia 6-12 tahun. Program ini menggunakan vaksin yang dapat memberikan perlindungan terhadap keempat serotipe virus dengue yang ada di Indonesia. Jaya mengatakan bahwa kick off program vaksinasi DBD diluncurkan di Kaltim pada bulan sebelumnya, dan ini menarik perhatian kementerian kesehatan karena program tersebut merupakan program pilot untuk vaksinasi dengue.

Jaya menyatakan bahwa meskipun biaya program masih tinggi, tetapi pihaknya memberikan layanan gratis kepada masyarakat. Harga sekali suntik vaksin adalah Rp300 ribu, namun masyarakat tidak dikenakan biaya apa-apa saat mengikuti program ini. Dirinya menambahkan bahwa masyarakat sangat diuntungkan dengan program ini karena jika mengikuti vaksinasi dengue di tempat lain akan dikenakan biaya sekitar Rp600 ribu untuk dua kali suntik.

Diharapkan dengan adanya dua inovasi ini, yaitu teknologi nyamuk ber-Wolbachia dan program vaksinasi dengue, DBD tidak lagi menjadi ancaman di Kaltim menurut Jaya. Selain itu, Dinkes Kaltim juga telah melakukan upaya pencegahan seperti refreshing atau workshop bagi tenaga kesehatan, pertemuan sosialisasi larva survei (LS) dan larva pemberantasan (LP), distribusi logistik rapid diagnostic test (RDT), larvasida, insektisida, alat pengasapan, serta mengaktifkan kembali kader jumantik.

"Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam menjaga lingkungan bebas jentik nyamuk aedes aegypti, yang merupakan vektor penyebab DBD," ucapnya. 

Untuk mencegah penyebaran DBD, dilakukan dengan cara 3M plus yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air, serta menghindari gigitan nyamuk. Jaya menambahkan bahwa tantangan dan hambatan dalam pencegahan DBD adalah keterlambatan pasien datang ke fasilitas kesehatan. Selain itu, kendala lainnya adalah terbatasnya logistik untuk pemeriksaan yang menyebabkan tidak mencukupi jumlah sasaran dan belum semua rumah sakit menggunakan NS1 sebagai alat pemeriksaan suspek DBD.

"NS1 adalah antigen yang diproduksi oleh virus dengue, yang bisa dideteksi dalam darah pasien. Dengan menggunakan NS1, kita bisa mengetahui apakah pasien positif DBD atau tidak dengan lebih cepat dan akurat," tuturnya. 

Dr Jaya berharap bahwa dengan semakin meningkatnya upaya pencegahan dan penanggulangan DBD, jumlah kasus penyakit tersebut dapat menurun di Kaltim.