Tantangan Petugas Damkar dan Penyelamatan di Berau, Idealnya Terdapat 452 Personel, Namun Saat Ini Hanya Tersedia 52 Personel.

Situasi yang terjadi saat ini adalah di beberapa tempat, seperti di Maratua yang tidak memiliki petugas pemadam kebakaran (damkar) dan di Kelay hanya terdapat 1 personel pemadam kebakaran saja. Meskipun miris, petugas terpaksa memberikan yang terbaik untuk melayani masyarakat dengan keterbatasan yang ada. “Di Kelay terkadang TNI/Polri bersatu, membantu kami,” jelasnya.

Tantangan Petugas Damkar dan Penyelamatan di Berau, Idealnya Terdapat 452 Personel, Namun Saat Ini Hanya Tersedia 52 Personel.
Idealnya 452 orang, apalagi tahun depan akan ada 4 orang yang akan purna tugas.

balikpapantv.co.id,TANJUNG REDEB- Kepadatan Kota Tanjung Redeb menuntut peningkatan jumlah tenaga pemadam dan penyelamatan. Dari 13 petugas Pemadam Kebakaran yang ada di Berau, hanya 52 orang yang tersedia saat ini. Menurut Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Berau, Novian Hidayat, idealnya Berau memiliki 452 petugas pemadam dan penyelamatan agar pelayanan kepada masyarakat bisa lebih optimal.

“Idealnya 452 orang, apalagi tahun depan akan ada 4 orang yang akan purna tugas,” jelasnya.

Jumlah petugas pemadam kebakaran di Berau yang hanya terdiri dari 52 orang semakin jauh dari kata ideal. Mereka dipaksa untuk menangani bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu, sehingga memerlukan perhatian khusus.

Situasi yang terjadi saat ini adalah di beberapa tempat, seperti di Maratua yang tidak memiliki petugas pemadam kebakaran (damkar) dan di Kelay hanya terdapat 1 personel pemadam kebakaran saja. Meskipun miris, petugas terpaksa memberikan yang terbaik untuk melayani masyarakat dengan keterbatasan yang ada. “Di Kelay terkadang TNI/Polri bersatu, membantu kami,” jelasnya.

Novian Hidayat, Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Berau mengaku sering meminta untuk mendapatkan alokasi tambahan petugas, tetapi terkendala oleh regulasi yang menghalangi hal tersebut. Saat ini, pengajuan tenaga honorer tidak bisa dilakukan, dan meminta alokasi tambahan dari penerimaan ASN juga tidak mudah.

"Sering minta ajukan PTT atau PNS, maksudnya membagi pegawai dari instansi lain untuk pindah, pegawainya mau tetapi kepala instansinya enggan melepas,” ujarnya.

Selain persoalan personel, sarana prasarana yang ada juga dinilainya tidak representatif. Di Berau, meskipun sudah terdapat gedung-gedung tinggi, armada mobil tangga milik damkar yang merupakan hibah dari Jepang sudah rusak dan tidak dapat digunakan. 

“Dari SDM yang ada kami belum ada pelatihan kebakaran di gedung bertingkat, mobil tangga kami yang hibah dari Jepang berusia puluhan tahun sudah rusak,” pungkasnya.

Sekretaris Kabupaten Berau, Muhammad Said, juga mengutarakan hal yang sama. Ia mengatakan bahwa dalam melakukan mutasi pegawai seringkali terhambat oleh keterbatasan pegawai di Berau yang memiliki peran penting di instansi masing-masing. "Sebenernya memang dari kebutuhan pegawai di Berau kurang. Kebutuhan pegawai besar, terkadang regulasi membatasi kita, mengangkat PTT tidak boleh, mengangkat PNS juga dibatasi,” terangnya. 

Menurutnya diperlukan langkah-langkah strategis dan tepat untuk menangani permasalahan ini ke depan. Selain persoalan Sumber Daya Manusia (SDM), ia mengakui bahwa mobilitas damkar terbatas pada keterbatasan sarana dan prasarana.