Survei 45% Mahasiswa di Indonesia Manipulasi Data Skripsi Demi Lulus

Menurut hasil survei singkat dari PopPoll pada tanggal 28 November - 12 Desember 2023, Populix menemukan bahwa banyak mahasiswa di Indonesia mengalami kesulitan dalam beberapa hal, seperti mengumpulkan data skripsi (26%), kurangnya pendampingan dari dosen pembimbing (22%), dan kesulitan dalam menganalisis data (17%). Oleh karena itu, bab 3: Metode Penelitian (33%) dan bab 4: Hasil Penelitian (29%) menjadi bagian yang paling sulit dikerjakan, karena membutuhkan proses pengumpulan data yang ekstensif dan analisis yang mendalam terhadap hasil temuan.

Survei 45% Mahasiswa di Indonesia Manipulasi Data Skripsi Demi Lulus

balikpapantv.co.id- Bagi mahasiswa di Indonesia, pengerjaan skripsi menjadi salah satu persyaratan penting untuk memperoleh gelar Sarjana atau Strata satu. Skripsi ini bertujuan untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah secara sistematis, dengan menggunakan teori yang telah dipelajari di kampus. Harapannya, hasil penelitian skripsi tersebut dapat berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Tanah Air. Namun, baru-baru ini, penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa orang tertarik untuk melakukan kecurangan untuk memperoleh gelar tersebut. Langkah seperti itu dapat menghambat peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia karena dapat menimbulkan kecurangan-kecurangan demi menyelesaikan tugas akhir tersebut. Jonathan Benhi, Co-Founder and CTO Populix, mengungkapkan hal ini melalui keterangannya.

“Dalam prosesnya, pengumpulan data skripsi seringkali menjadi kendala terbesar yang mempersulit mahasiswa tingkat akhir dalam melakukan penelitian. Kendala ini bisa menghambat peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia karena berpotensi menimbulkan kecurangan-kecurangan demi menyelesaikan tugas akhir tersebut,” ungkap Jonathan Benhi.

Menurut hasil survei singkat dari PopPoll pada tanggal 28 November - 12 Desember 2023, Populix menemukan bahwa banyak mahasiswa di Indonesia mengalami kesulitan dalam beberapa hal, seperti mengumpulkan data skripsi (26%), kurangnya pendampingan dari dosen pembimbing (22%), dan kesulitan dalam menganalisis data (17%). Oleh karena itu, bab 3: Metode Penelitian (33%) dan bab 4: Hasil Penelitian (29%) menjadi bagian yang paling sulit dikerjakan, karena membutuhkan proses pengumpulan data yang ekstensif dan analisis yang mendalam terhadap hasil temuan. Dalam kaitannya dengan pengumpulan data, beberapa masalah yang sering dihadapi oleh mahasiswa termasuk responden tidak sesuai dengan kriteria (33%), sulit menentukan responden (23%), responden yang kurang (17%), kesulitan untuk menargetkan responden di luar kota (14%), dan tidak tahu bagaimana menyebarkan kuesioner (12%).

Kekhawatiran utama para mahasiswa dalam menghadapi sidang skripsi adalah kurangnya penguasaan terhadap materi skripsi dan validitas data. Berdasarkan survei, 42% responden mengaku takut tidak bisa menjawab pertanyaan dari dosen penguji saat sidang skripsi, 26% responden mencemaskan dosen penguji yang kritis, dan 11% responden takut karena data di skripsinya tidak valid. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa ada banyak mahasiswa yang melakukan kecurangan demi menyelesaikan skripsinya dan mendapatkan gelar Sarjana. Beberapa kecurangan yang sering dilakukan oleh mahasiswa tingkat akhir termasuk manipulasi data (45%), menggunakan jasa joki skripsi (26%), meniru skripsi orang lain (16%), dan mengambil judul skripsi orang lain (24%).

Menurut Jonathan, proses pengumpulan data merupakan suatu tantangan bagi para mahasiswa. Tingkat validitas dan reliabilitas data merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan data yang berkualitas. Populix menyadari tantangan tersebut dan berkomitmen untuk menyederhanakan proses pengumpulan data bagi para mahasiswa dengan menggunakan platform survei online Poplite.

"Lewat Poplite, para mahasiswa dapat dengan mudah menentukan responden dan menyebarkan kuisioner sesuai dengan target penelitan mereka. Sehingga, hasil penelitian pun dapat menjadi referensi tepat dalam membuat rekomendasi dan pengambilan keputusan," pungkas Jonathan.