Konflik Hamas-Israel: Tidak Ada Pilihan untuk Mengakhiri Peperangan secara Permanen

Pemimpin senior Hamas, Osama Hamdan, menyatakan tidak akan ada gencatan senjata di Jalur Gaza dalam waktu dekat dan bahwa para pemimpin Hamas masih memerlukan waktu untuk memeriksa rancangan kerja yang diusulkan. Rancangan kerja melibatkan tiga tahap, termasuk gencatan senjata selama enam minggu, pertukaran tawanan di Gaza, dan pembebasan warga Palestina yang ditahan di Israel.

Konflik Hamas-Israel: Tidak Ada Pilihan untuk Mengakhiri Peperangan secara Permanen

balikpapantv.co.id- Pemimpin senior Hamas di Lebanon, Osama Hamdan, mengatakan bahwa tidak akan ada gencatan senjata di Jalur Gaza dalam waktu dekat. Menurutnya, para pemimpin Hamas belum mencapai kesepakatan akhir dan masih memerlukan waktu untuk memeriksa rancangan kerja yang diusulkan oleh Israel, Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat.

’’Kami segera mengumumkan posisi kami berdasar keinginan untuk mengakhiri agresi yang diderita rakyat kami secepat mungkin,’’ ujarnya seperti dikutip Agence France-Presse

Osama Hamdan juga menyatakan bahwa Hamas siap untuk membahas inisiatif yang dapat mengakhiri kekerasan kejam terhadap warga Palestina. Rancangan kerja yang diajukan melibatkan tiga tahap, termasuk gencatan senjata selama enam minggu, pertukaran tawanan di Gaza, dan pembebasan warga Palestina yang ditahan di Israel.

Otoritas Israel mengumumkan bahwa sebanyak 132 warga mereka masih diperkirakan berada di Gaza, termasuk 27 tawanan yang diyakini telah tewas. Menurut kesepakatan, pembebasan tawanan dimulai dengan perempuan, anak-anak, orang sakit, serta warga lanjut usia, lalu dilanjutkan dengan tentara pria dan orang dewasa. Namun, usulan tersebut tidak sesuai dengan tuntutan Hamas, yang meminta penghentian perang dan penarikan pasukan Israel.

Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, dilaporkan menuntut lebih banyak konsesi. Hamas meminta 3.000 tahanan Palestina dibebaskan sebagai imbalan atas pembebasan 36 sandera sipil yang diculik dalam serangan pada 7 Oktober. Selain itu, Hamas ingin pembebasan tawanan dilakukan dalam empat fase, bukan tiga fase seperti yang diusulkan. Hamas juga menuntut agar Israel membebaskan pemimpin politik Palestina yang terkenal, Marwan Barghouti.

Orang Palestina menganggap Marwan Barghouti mirip dengan Nelson Mandela, sedangkan Israel melihatnya sebagai pelaku terorisme. Beberapa media melaporkan bahwa Hamas memerlukan lebih banyak waktu untuk menemukan seluruh sandera mereka, yang telah tersebar di berbagai tempat dan beberapa di antaranya berada di tangan kelompok lain yang tidak terkait dengan Hamas. Permintaan Israel untuk memiliki semua daftar sandera menyulitkan proses ini.

Al-Hadath, sebuah outlet media Saudi mengabarkan bahwa Hamas dan kelompok Palestina lainnya akan merilis pernyataan terkait usulan kesepakatan penyanderaan yang dihasilkan di Paris pada Minggu malam waktu setempat. Sementara Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berencana melakukan kunjungan ke Timur Tengah dalam beberapa hari ke depan untuk mempercepat tercapainya kesepakatan. Di lapangan pertempuran, serangan IDF di Rafah yang digunakan sebagai tempat pengungsian telah menyebabkan kematian dua anak. Lebih dari separuh penduduk Gaza telah mengungsi ke Rafah dan sekitarnya karena hampir seluruh lokasi di Gaza telah menjadi sasaran serangan Israel.

Annalena Baerbock, Menteri Luar Negeri Jerman, menegaskan bahwa serangan militer Israel di Gaza adalah tindakan yang salah. Ia menyatakan bahwa mayoritas korban dari serangan tersebut adalah perempuan dan anak-anak yang merupakan seperti anak-anak kita sendiri.

’’Bersama dengan mitra Amerika kami, saya telah menjelaskan kepada pemerintah Israel selama beberapa waktu bahwa orang-orang di Gaza tidak bisa menghilang begitu saja,’’ tambahnya.