Kecil-Kecil Cabe Rawit,Harga Cabai Rawit Makin “Mucil”.

harga beras tertinggi di Kota Minyak mencapai Rp 17.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit menjadi komoditas dengan harga yang signifikan, mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram. Untuk menekan harga eceran cabai, pihak Perumda Manuntung Sukses juga diharapkan dapat berkontribusi. Namun, dinamika harga cabai masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Kecil-Kecil Cabe Rawit,Harga Cabai Rawit Makin “Mucil”.
Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan memberikan jaminan bahwa stok bahan pokok masih tersedia baik di pasar tradisional maupun ritel modern.

balikpapantv.co.id, BALIKPAPAN-Inflasi di Kota Minyak disebabkan oleh kenaikan harga cabai yang menjadi penyumbang tertinggi, diikuti oleh transportasi udara dan beras. Pemerintah telah melibatkan Pertamina dan distributor pangan untuk menstabilkan harga ketiga komoditas tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendistribusikan beras impor ke seluruh wilayah, di mana Kaltim mendapatkan jatah sebesar 12.600 ton dan Balikpapan sebesar 3.900 ton.

Menurut Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan, Haemusri Umar, pasokan beras tersebut akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Juni 2024 mendatang. Hal ini diharapkan dapat membantu menstabilkan harga dan meringankan beban masyarakat dalam menghadapi kenaikan harga yang terjadi akhir-akhir ini. Semoga upaya pemerintah dapat meringankan beban hidup masyarakat dan membantu menstabilkan perekonomian daerah.  "(Jatah) itu untuk mencukupi kebutuhan selama Nataru (Natal dan tahun baru), puasa hingga Lebaran nanti," ujarnya, (20/12).

Saat ini, harga beras tertinggi di Kota Minyak mencapai Rp 17.000 per kilogram, sedangkan cabai rawit menjadi komoditas dengan harga yang signifikan, mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram. Untuk menekan harga eceran cabai, pihak Perumda Manuntung Sukses juga diharapkan dapat berkontribusi. Namun, dinamika harga cabai masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Menurut Haemusri, kebutuhan pangan atau komoditas lokal masih dapat tercukupi. Namun, beberapa komoditas mengalami lonjakan, terutama barang-barang yang dipasok dari luar daerah. Meskipun belum sepenuhnya efektif, pemerintah memiliki alternatif kebijakan bagi masyarakat yang ingin menanam di pekarangan. Masyarakat dapat mengunjungi Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan untuk mendapatkan bibit yang dibutuhkan.

Menanam cabai di pekarangan adalah program yang didukung oleh pemerintah dan Bank Indonesia, dimaksudkan agar bersama-sama menjaga stabilitas harga dan inflasi. Program ini diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat dan menjaga ketersediaan pangan di daerah.

"Beras dan cabai menjadi komoditas yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat kita. Permintaan selama Nataru pasti akan mengalami peningkatan, sebagaimana hukum permintaan yang membuat harga ikut naik. Harga mulai kembali stabil di bulan Januari mendatang, dan akan kembali naik saat puasa dan Lebaran," jelasnya.

Bergantung pada distribusi bahan pokok dari luar daerah hingga 90 persen, membuat Balikpapan membutuhkan kerjasama dengan daerah lain untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok. Terikat dengan banyak proyek strategis nasional, termasuk area Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dikunjungi oleh banyak tamu, semakin membuat kebutuhan akan bahan pokok semakin meningkat.

Berdasarkan informasi perkembangan harga bahan pokok di lima pasar tradisional di Kota Minyak, terlihat bahwa harga beras premium termahal per kilogramnya dijual dengan harga Rp 16.000-17.000. Sedangkan cabai rawit memiliki harga Rp 80.000-120.000 per kilogramnya. Harga bahan pokok di pasar tertinggi rata-rata berada di Klandasan dan Pandansari, dan hanya mengalami perbedaan yang tipis.

Sehari sebelumnya harga ayam ras kecil dan besar juga mengalami kenaikan walau hanya sebesar 0,50 persen. Selain itu, harga bawang putih naik 1,59 persen, harga bawang merah naik 3,77 persen, harga kangkung naik 6,12 persen, harga sawi naik 12,50 persen, dan harga bayam naik 21,28 persen. Semoga pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama dalam mengatasi kondisi ini dan menstabilkan harga bahan pokok yang diperlukan oleh masyarakat.

Terdapat beberapa bahan pokok yang mengalami penurunan harga, seperti cabai rawit sebesar 2,13 persen, kacang panjang sebesar 2,50 persen, cabai merah besar sebesar 3,24 persen, dan cabai keriting sebesar 6,17 persen. Namun, Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan memberikan jaminan bahwa stok bahan pokok masih tersedia baik di pasar tradisional maupun ritel modern, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran atau kepanikan dari masyarakat. Semoga hal ini dapat memberi kenyamanan bagi masyarakat yang membutuhkan persediaan bahan pokok.