Kali Ini UNAIR, Tujuh Guru Suarakan Aspirasi Kondisi Demokrasi Jelang Pemilu 2024

Bertempat di halaman Sekolah Pasca Sarjana Universitas Airlangga (Unair), tujuh guru besar dan beberapa akademisi mengambil bagian dalam aksi "Unair Memanggil" pada hari Senin,5 Februari 2024 untuk menyoroti perburukan kondisi demokrasi menjelang Pemilu 2024. Dalam aksi tersebut, para peserta membacakan pernyataan sikap yang menekankan pentingnya memperjuangkan demokrasi.

Kali Ini UNAIR, Tujuh Guru Suarakan Aspirasi Kondisi Demokrasi Jelang Pemilu 2024

balikpapantv.co.id- Pada hari Senin (5/2), tujuh guru besar dan beberapa akademisi dari Universitas Airlangga (Unair) mengambil bagian dalam aksi "Unair Memanggil" yang digelar di halaman Sekolah Pasca Sarjana Unair. Hal ini bertujuan untuk menyoroti kondisi demokrasi menjelang Pemilu 2024 yang disebut-sebut semakin memburuk.

 Di antara ketujuh guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Ramlan Surbakti (Guru Besar Ilmu Politik), Prof. Dr. Hotman Siahaan (Guru Besar Sosiologi), Prof. Dr. Drs. Henri Subiakto SH MSi (Guru Besar Ilmu Komunikasi), Prof. dr. Abdul Hafid (Guru Besar FK), Prof. Dr. Ir. Annis Catur Adi, MSi (Guru Besar Ilmu Gizi), Prof. Basuki Rekso Wibowo (Alumnus FH), dan Prof. Thomas Santoso (Alumnus Sosiologi). Selama aksi, para peserta membacakan pernyataan sikap yang menekankan pentingnya memperjuangkan demokrasi, mempertahankan republik di lingkungan Universitas Airlangga, serta menyuarakan semangat Ksatria Airlangga. Pernyataan ini disampaikan oleh Prof. Hotma Siahaan.

”Hal yang perlu diingat kembali presiden bahwa legitimasi maupun dukungan rakyat kepada pemerintah sejak 9 tahun lalu tidak bisa dilepaskan dari harapan bahwa presiden akan menjalankan etika republik dan merawat demokrasi maupun pemerintahan yang bebas KKN,” ungkap Hotma, Senin (5/2)

Para akademisi, keluarga besar, dan alumni Unair Surabaya menekankan agar pelaksanaan Pemilihan Umum 2024 berjalan adil, tanpa tindakan kecurangan, dan tanpa kekerasan. Prof. Hotman Siahaan juga menyatakan bahwa partai politik perlu mereformasi diri dalam fungsi artikulasi, agregasi, dan pendidikan politik bagi warga negara. Mereka mengecam berbagai bentuk intervensi dan intimidasi terhadap mimbar-mimbar akademik di perguruan tinggi. Selain itu, mereka meminta perguruan tinggi untuk menjaga martabat, rasionalitas, dan kritik atas pemerintah, demi tegaknya republik.

”Ini empat poin seruan yang kami lakukan. Kampus ini hanya memberikan seruan moral, kami tidak melakukan tindakan-tindakan politik praktis. Seruan Moral ini sebagai bingkai dari seluruh moralitas bangsa ini dalam kerangka negara demokrasi,” ucap Kotma.

Menurut Airlangga Pribadi Kusman, seorang dosen ilmu politik di Unair, lebih dari 100 akademisi Unair dan kolega sejawat di luar Unair telah menandatangani pernyataan sikap dan petisi terkait dinamika politik saat ini. Aksi yang dilakukan merupakan respons atas kondisi politik yang terjadi.

”Pernyataan sikap ini berangkat dari keprihatinan kami sebagai insan akademik terhadap perkembangan yang berlangsung akhir-akhir ini karena kami melihat penyelenggara negara ini semakin lama semakin menjauh dari prinsip etika republik,” papar Airlangga Pribadi Kusman.