Buset !!!...”J”Cowok ABG Bantai Waluyo Sekeluarga,Liat Jasad Istri Sama Jasad Anak Pertama Korban,Tuh “J” Setubuhi Jasad Istri Sama Anak Pertama

J yang berusia 16 tahun membunuh satu keluarga di Desa Babulu Laut, penajam paser utara dan menyetubuhi jasad istri serta jasad anak pertama korban pembunuhan. Motif pembunuhan ini akibat masalah helm yang dipinjam oleh korban dan tidak dikembalikan. Pelaku didakwa dengan Pasal 340 KUHP, Pasal 338 KUHP, Pasal 366 KUHP, serta Pasal 60 Ayat 3 dan Pasal 76 Ayat C Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup

Buset !!!...”J”Cowok ABG Bantai Waluyo Sekeluarga,Liat Jasad Istri Sama Jasad Anak Pertama Korban,Tuh “J” Setubuhi Jasad Istri Sama Anak Pertama
Tersangka J (16) dijerat oleh polisi dengan Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP subsider 366 KUHP juncto Pasal 60 Ayat 3 juncto juncto Pasal 76 Ayat C Undang-undang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman mati atau minimal seumur hidup. Pada Selasa (6/2/2024)

balikpapantv.co.id,PENAJAM-Setelah membunuh satu keluarga di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, PPU, J atau SJ (16) juga menyetubuhi jasad istri Waluyo (34) dan anak pertama mereka, R (15). Menurut keterangan dari Kapolres PPU AKBP Supriyanto di Mapolres PPU, aksi ini dilakukan tidak lama setelah J membantai keluarga tersebut pada Selasa (6/2/2024) dinihari. Namun, polisi masih menunggu keterangan resmi dari dokter untuk memastikan pengakuan tersangka.

 "Kepastian masih menunggu dari dokter," kata Kapolres PPU AKBP Supriyanto di Mapolres PPU, Selasa (6/2/2024) sore.

Kapolres mengungkapkan bahwa motif tersangka J (16) untuk membunuh Waluyo (35) beserta istri dan tiga anak mereka pada Selasa (6/2/2024) dinihari adalah perasaan dendam akibat perselisihan antar tetangga yang berawal dari masalah ayam hingga helm. Tersangka mengungkapkan bahwa korban sebelumnya meminjam helm darinya dan tak mengembalikannya dalam waktu tiga hari. Dari hasil pendalaman yang dilakukan oleh polisi, motif dendam dari tersangka terhadap korban menjadi penyebab aksi kekerasan yang tragis ini.

"Puncaknya semalam, tersangka mabuk, lalu pulang ke rumah dan muncul niat untuk menghabisi para korban," kata Kapolres.

Tersangka J (16) dijerat oleh polisi dengan Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP subsider 366 KUHP juncto Pasal 60 Ayat 3 juncto juncto Pasal 76 Ayat C Undang-undang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman mati atau minimal seumur hidup. Pada Selasa (6/2/2024) dinihari, satu keluarga ditemukan tewas di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, PPU, yang menghebohkan warga sekitar. J, yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah korban, ditangkap oleh polisi dalam waktu singkat setelah kejadian.

“Tersangka kami amankan di rumahnya beberapa jam setelah kejadian,” kata Supriyanto.

Dalam kasus ditemukannya satu keluarga tewas di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, PPU, Kapolres mengatakan bahwa tersangka J (16) telah membunuh Waluyo (35), istri Waluyo, SW (34) dan ketiga anak mereka, yaitu R (15), V (10) dan Z (2,5) menggunakan parang seorang diri. Sebelum melakukan aksinya, tersangka yang masih berstatus pelajar di salah satu SMA swasta di PPU telah memutuskan aliran listrik di rumah korban dengan mematikan saklar listrik sebelum memasuki rumah.

Setelah kasus pembunuhan satu keluarga terungkap, Kapolres PPU AKBP Supriyanto mengungkapkan bahwa tersangka J atau SJ (16) sempat mengarang cerita palsu untuk menipu polisi. Sebelumnya, J hanya berstatus saksi dalam kasus tersebut karena menjadi salah satu orang pertama yang mengetahui tragedi tersebut. 

Polisi mendapat laporan dari seorang warga yang mengaku mendapat informasi tentang pembunuhan tersebut dari J, yang juga ternyata saudaranya sendiri. Dalam keterangannya, J mengaku mendengar teriakan minta tolong dari rumah korban, dan kemudian mendatangi sumber suara tersebut karena merasa bertanggung jawab sebagai tetangga.

Di sana, dia mengaku terlibat duel dengan sekitar 10 orang asing, dan berhasil melukai satu orang. Namun, setelah diancam dan terpojok oleh orang asing tersebut, J akhirnya pergi ke rumah dan memberitahu kejadian tersebut kepada warga yang melaporkannya ke polisi. Namun setelah ditemukan fakta yang bertentangan dengan kisah J, ia akhirnya dianggap sebagai tersangka dan mengakui tindakannya.

 "Keterangan ini tidak masuk akal. Lalu kami amankan J ini ke Polsek Babulu," kata Kapolres.

Setelah melakukan pendalaman kasus, polisi fokus pada olah Lokasi Kejadian Perkara (TKP). Polisi membandingkan hasil olah TKP dengan keterangan yang diberikan oleh J dan akhirnya J mengakui bahwa ia yang melakukan pembunuhan. 

Kapolres PPU AKBP Supriyanto mengatakan bahwa pada awalnya tersangka tidak menunjukkan penyesalan ketika memberikan keterangan kepada polisi, namun setelah mengakui perbuatannya, tersangka mulai menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Priyanto juga mengungkapkan bahwa motif tersangka untuk melakukan aksi pembunuhan adalah dendam terhadap Waluyo (35) beserta istri dan tiga anak mereka.

"Dari hasil pendalaman kami, motifnya adalah dendam pelaku terhadap korban yang berawal dari cekcok antar tetangga," katanya.

Priyanto menyamakan perselisihan antara korban dan tersangka dengan persoalan ayam, namun akhirnya berubah menjadi persoalan helm. Menurut pengakuan tersangka, korban meminjam helm dan tidak mengembalikannya selama tiga hari. Kapolres mengatakan bahwa puncaknya terjadi ketika tersangka, dalam keadaan mabuk, kembali ke rumah dan berencana membunuh para korban.

Tersangka J didakwa dengan Pasal 340 KUHP, Pasal 338 KUHP, Pasal 366 KUHP, serta Pasal 60 Ayat 3 dan Pasal 76 Ayat C Undang-Undang Perlindungan Anak. Jika terbukti bersalah, tersangka dapat dihukum mati atau dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.