Bunuh 30 Warga Palestina,Israel Perlakukan Buruk Jenazah 30 Warga Palestina…Gak Ingat Apa Dulu Perlakuan NAZI Jerman Sama Warga Yahudi ?

Israel membunuh 30 warga Palestina saat pasukan mereka mundur dari wilayah Beit Lahia di Gaza Utara. Jenazah-jenazah warga Palestina ditemukan di halaman sekolah dasar setempat, masih diikat dengan kabel ties bertuliskan huruf Ibrani.

Bunuh 30 Warga Palestina,Israel Perlakukan Buruk Jenazah 30 Warga Palestina…Gak Ingat Apa Dulu Perlakuan NAZI Jerman Sama Warga Yahudi ?
Hamas akan membebaskan tawanan lanjut usia, wanita dan anak-anak dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina selama enam minggu pertama.

balikpapantv.co.id- Israel dilaporkan membunuh 30 warga sipil Palestina saat pasukan mereka mundur dari wilayah Beit Lahia di Gaza Utara. Jenazah-jenazah warga Palestina ditemukan di halaman sekolah dasar setempat, dan diikat dengan kabel ties bertuliskan huruf Ibrani. Beberapa kantong jenazah ditemukan di bawah puing-puing. Hal ini menambah jumlah korban akibat tindakan keras Israel di wilayah tersebut.

Sekolah yang dulunya menjadi tempat penampungan bagi ribuan pengungsi Palestina di Gaza Utara sekarang telah menjadi tempat penemuan jenazah warga Palestina. Sekolah tersebut didukung oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB (UNRWA) sejak tahun 2010. Tentara Israel belum memberikan tanggapan tentang penemuan ini. Penemuan jenazah ini terjadi setelah lebih dari 100 jenazah Palestina dikembalikan untuk dimakamkan massal di kota selatan Rafah, beberapa diantaranya tidak teridentifikasi dan beberapa lainnya sudah membusuk.

Hari Selasa lalu (30/1), Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas, menyatakan Hamas sedang mempertimbangkan untuk memberikan gencatan senjata selama 6 minggu dengan Israel bagi warga Palestina di Gaza. Ini akan menjadi imbalan atas pembebasan warga Israel yang ditawan di Gaza serta pembebasan tahanan Palestina yang ditahan di Israel. Haniyeh menekankan bahwa Hamas bersedia menerima inisiatif serius yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan menarik sepenuhnya pasukan Israel dari Gaza.

Pada akhir pekan, para pejabat dari Qatar, Mesir dan Amerika bertemu dengan kepala intelijen Israel di Paris untuk membahas pembebasan sekitar 136 warga Israel yang masih ditawan di Gaza. Menurut The New York Times pada Minggu (28/1), Hamas akan membebaskan tawanan lanjut usia, wanita dan anak-anak dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina selama enam minggu pertama.

Jika usulan itu berhasil, akan ada dua tahap pertukaran lagi dengan melibatkan tentara Israel laki-laki. Antony Blinken, Menteri Luar Negeri AS, menyebut usulan itu sebagai "proposal yang kuat dan menarik" pada Senin (29/1/23), tetapi tidak dapat membahas detail usulan. Namun, Ben Gvir mengecam proposal gencatan senjata itu. 

Kantor perdana menteri Israel menyebut perundingan itu sebagai "hal yang konstruktif", tetapi mencatat bahwa ada kesenjangan signifikan yang masih harus didiskusikan oleh semua pihak. Selama berminggu-minggu, perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu beserta pemerintahan sayap kanannya telah berjanji untuk tetap berada di Gaza sampai Hamas dihapuskan.

Pada hari Jumat (26/1/24), Netanyahu berbicara dari salah satu pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat yang diduduki Israel.

“Kami tidak akan berkompromi pada apa pun kecuali kemenangan total,Itu berarti melenyapkan Hamas, mengembalikan semua sandera kami dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel,” ungkap Netanyahu dalam pernyataannya.

Pada hari Selasa (30/1) anggota biro politik Hamas, Mohammad Nazzal, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa untuk mencapai kesepakatan mengenai pembebasan tawanan Israel, Israel harus menarik sepenuhnya pasukannya dari Gaza.

“Kami mengatakan kepada para mediator bahwa gencatan senjata permanen adalah tujuan kami, namun kami dapat melakukannya pada tahap kedua atau ketiga dari perjanjian. Tanpa penarikan Israel dari Gaza, kami tidak dapat menerima proposal baru ini,” kata Nazzal.

Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, mengancam akan menggulingkan pemerintah jika kesepakatan dicapai dengan Hamas yang dianggapnya sembrono. "Kesepakatan sembrono = pembongkaran pemerintah," tulisnya di Twitter pada hari Selasa. Serangan militer Israel yang terus-menerus di Gaza sejak serangan tanggal 7 Oktober telah menewaskan lebih dari 26.000 warga Palestina, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak.